Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3585716
Hanya ingin berbagi sebuah renungan ini. Tokoh di dalam cerita renungan ini hanyalah fiktif belaka, dan nama-nama di dalamnya telah diganti dengan nama-nama admin kami agar menambah daya tarik cerita. Mohon maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan dan pihak-pihak yang tidak berkenan, tapi sungguh tujuan cerita ini hanya ingin mengingatkan kita bahwa kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki. Ditunggu tanggapannya setelah membaca ini di page ..
Enjoy it!! d(^o^)b
---------------------
Belum sempat Muammal meletakkan tas kerjanya sepulang ke rumah, matanya tertegun melihat sebuah surat tergeletak di atas meja. Di sebuah amplop tertulis "Untuk Ayah Tersayang". Setelah belasan tahun menjadi single parent, baru kali ini ada surat untuknya dari Luvee, anak gadisnya. Ada apa?
Kalimat pertama pada surat itu sudah mengguncang hatinya;
"Ayah tersayang, jika Ayah membaca surat ini maka aku sudah tidak ada di rumah."
Sekalipun berat, Muammal melanjutkan bacaan kata demi kata.
"Ayah, aku telah menemukan pria yang akan mendampingiku selamanya. Namanya Akbar. Memang buat orang lain dia sudah terlalu tua, tapi bagiku pria berusia 45 tahun masih tetap muda. Dia sangat energik, Ayah. Kalau Ayah mengenal lebih dekat dengannya pasti Ayah juga akan menyukainya. Ayah jangan terkecoh dengan tato di seluruh tubuhnya atau janggut dan brewoknya yang panjang atau puluhan tindik di telinga dan hidungnya, karena jauh di dalam hatinya ia adalah orang baik. Ia sangat sayang padaku, dan ia juga ayah dari anak di dalam kandunganku.
Istrinya, Mia, tidak keberatan aku mendampinginya, karena istrinya sudah sibuk mengurus anak-anaknya yang bandel, Hafid, Dano, dan Nur. Oh iya, Ayah tidak usah khawatir tentang kehidupanku. Ia menguasai penjualan barang-barang illegal di kota Cirebon, jadi uang sama sekali bukan masalah buat kehidupan kami. Saya tahu ia sudah mengidap HIV sejak lama, tapi katanya dalam beberapa tahun ke depan obat penyakit AIDS akan ditemukan jadi aku tidak perlu khawatir bukan?
Ayah jangan bersedih karena aku bahagia. Usiaku sudah 18 tahun, Ayah, jadi aku bisa memutuskan yang terbaik untuk hidupku."
Tanpa sadar, air mata sang ayah menetes jatuh ke lembar surat itu.
Bagaimana mungkin anaknya yang lucu dan periang bisa menjadi seperti ini?
Lembar pertama surat pertama baru saja selesai dibacanya.
Tangan sang ayah bergetar, berat rasanya, tapi ia membuka lembar kedua surat itu.
Kali ini isinya jauh berbeda.
"Ayah sayang. Maaf, sebenarnya surat di halaman pertama tadi tidak benar-benar terjadi. Saya hanya ingin menggambarkan betapa kemungkinan terburuk bisa terjadi pada anak-anak gadis, dan syukurlah aku tidak demikian. Ayah bahagia bukan, kalau aku tetap bersama Ayah?
Ayah bahagia bukan, aku tidak menghancurkan diriku seperti itu? Tentu saja, mempunyai anak yang rapornya jelek, jauh lebih menguntungkan daripada mempunyai anak seperti itu. Oh iya Ayah, raporku ada di dalam tas, nilainya jelek, maaf ya. Silakan Ayah lihat, jangan lupa ditandatangani. Besok Ibu Guru ingin bicara dengan Ayah tentang nilai raporku, jangan marah ya. Kalau Ayah tidak marah melihat nilai raporku, aku sedang bermain di rumah sebelah, aku tunggu yah?
Love you, Ayah."
"Luveeee.....!!" Muammal berteriak dan lari ke rumah tetangganya, ia akan mengitik habis anaknya yang 'keterlaluan' itu.
Lega rasanya hati Muammal. Konyol tapi melegakan. Tidak seperti kebanyakan ayah yang sedih melihat rapor anaknya yang buruk, hati Muammal justru berbunga-bunga karena ia tidak kehilangan anaknya. Memang kali ini, keterlaluan sekali becanda anak gadisnya!
(Terinspirasi dari humor yang pernah saya dengar)
*Humor dan Hikmah*
Kali ini humor dan hikmah tulisannya tidak ditulis dijudul, biar gak bocor
humornya.
Sebenarnya Lucy hanya ingin agar ayahnya tidak marah melihat rapornya yang buruk, untuk membuat masalah rapor buruk terlihat kecil ia membuat gambaran masalah besar yang mungkin terjadi sehingga masalah yang ada jadi terlihat kecil.
Ini sebenarnya adalah seni bersyukur dan seni berkomunikasi dengan diri.
Kalau Readers ingin bersyukur atas kesulitan yang kita terima maka kita sebaiknya membayangkan kesulitan lebih besar yang mungkin bisa kita alami. Dengan demikian kita bisa menghindari diri dari stres atau kegalauan yang berkepanjangan.
Masalah kekecewaan hati atau rasa tidak bersyukur biasanya tidak berhubungan dengan uang tapi lebih karena penerimaan hati. Orang yang tidak bersyukur biasanya FOKUS PADA YANG TIDAK DIPUNYAI sedangkan ORANG BERSYUKUR FOKUS PADA YANG DIMILIKI.
Kita bisa melihat anak kampung bahagia main layang layang yang 1 set
berharga tidak lebih dari Rp 5000. Tapi anak orang kaya ngambek pada orang tuanya padahal baru dibelikan pesawat remote control seharga 5 juta. Kenapa? Karena anak kaya itu suka dengan yang model baru seharga 15 juta.
Ada anak kaya yang ngambek pada orang tuanya karena link internet putus satu hari karena lupa bayar bulanan, padahal ia sudah beruntung bisa mengakses internet selama 29 hari sebelumnya.
Memang apa yang dilakukan Luvee pada ayahnya, Muammal, agak keterlaluan, tapi itu gambaran dramatis tentang bagaimana bisa membuat diri kita bersyukur apa adanya.
Sudahkah Anda bersyukur hari ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar